Senin, 21 November 2011

Berkelahilah….
Berteriaklah…
Lemparlah batu ke kepalanya
Ayunkan mata pisau ke urat lehernya
Ingin melihat seberapa tangguh dirimu
Berkelahilah…

Kau tentu lebih hebat dari mereka
kau tentu paling kuat
Merah mudamu melejit ke ubun-ubun
Kau senang bukan?
Jadi
mari lanjutkan bersenang-senang!

Mereka melawan
Huh… tunjukkan taringmu kawan
Kau singa disini
Kau penguasa rimba
Cabik-cabik mereka
biarkan hingga berdarah-darah

Kau senang bukan?
Jadi
mari lanjutkan bersenang-senang!
Berkelahilah…!!!
Hantam apa yang pernah menyakitimu
Habisi selumat-lumatnya

Hingga
kan kau lihat disudut sana
Sekelompok makhluk tertawa cekikikan
menertawakanmu
ya… menertawakan kalian
yang menang jadi abu
kalah jadi arang!



*kita tidak kan maju dengan bersiteru....!!!
 


Senin, 07 November 2011



Sahabat….
Maukah engkau berteman denganku?

Aku ingin mendengarmu bertutur
Tentang cita-cita
Tentang sarapanmu pagi ini
Tentang semangat tak takut mati

Sahabat…
Desing peluru itu seperti apa bunyinya?
Aphace ini bentuknya bagaimana?
Aku tidak tahu…
Aku belum pernah melihat

Sahabat…
Berapa banyak hafalan Qur’anmu
Apa?
Lebih dari setengah Qur’an?
Aku masih…
Malu sekali mengatakannya…
Belum genap 1 juz


Sahabat…
Wireless di rumahku sering lola
Aku jadi susah berkeliaran di dunia maya
Aku kan mau jalan-jalan ke seluruh dunia dari atas kursiku
Apa?
Jalan-jalan di tempatmu rusak berat
Apa?
Orang-orang yang mau ke negaramu di bombardir
Yang benar saja…

Sahabat…
Aku sering mengaduh
Apalagi mengeluh
Aku malas sekolah
Malas membuka buku
Inginnya tidur melulu..

Apa?
Kau belajar di reruntuhan gedung
Kau tak punya buku dan alat tulis
Kau kekurangan guru yang mengajar…
Yang benar saja..
Kau suka fisika?
Aku tidak…
Pelajaran semacam apa itu?
Kau suka kimia?
Oh….. reaksi-reaksi aneh itu membuatku pusing
Matematika?
Sama saja…
Apa?
Kau mau tahu yang aku suka?
Main game…… aku hafal semua game terbaru…
Aku lihai dan lincah!
Kau mau lihat?

Sahabat…
Aku terkena Wahn..
Cinta dunia dan takut mati
Apa?
Kau siap mati kapan saja..
Kau bangga bila terkena tembakan mereka..
Apa?
Syahid itu indah?

Sahabat…
Maaf…
Yang kupedulikan hanya diriku sendiri
Apa?
Kau senantiasa mendoakanku?
Karena aku muslim, karena aku saudaramu…?
Kau bangga dengan bangsaku, bangsa muslim terbesar?

 Saudaraku…
Jujur kukatakan…
Aku sering lupa mendoakanmu..
Apalagi mendoakan kemerdekaan bangsamu
Aku berdoa hanya untuk diriku sendiri dan keluargaku,
Padahal aku jelas tahu..
Negerimu kiblat pertama umat islam…

Maaf sepenuh hati….
Moga sifat buruk itu bisa kurubah esok hari
Tapi, apakah masih bisa kita berteman?
Aku masih ingin mendengar kau bertutur
Tentang cita-cita
Tentang sarapanmu pagi ini
Tentang semangat tak takut mati
(Yona harianti putri/061111)

·         Palestina… aku mengingatmu kembali




Minggu, 06 November 2011

Darah tumpah
Tumpah darah

Berkurbanlah
Menumpahkan darah...

Jumat, 04 November 2011

Ahh...
Bukan-bukan
Aku..
Tak tahu apa yang ada di fikiranku saat ini
Gelombang...
ya... tapi belum terombang ambing...

Rembulan..
Tiada 
hujan...
ya...
Petir...
tiada
Dingin..
ya...
Sekali..menggigil
ya...

Seonggok anak ayam serta induknya
bertengger di muka rumah...
Bergerumun... 
induknya sayang anak...

Nah... entah kemana aku pergi..
kemari katanya...
kamu siapa?
Aku tak tahu siapa kamu...
Kemari katanya...
Tidak...

Lalu lalang....
mondar mandir
Lebih baik diam
bisu...
tentram...

" aku cemburu...." katanya di depanku.
Pada siapa?
" Pada orang yang selalu kau sebut...." tambahnya lagi...

Jika kau tahu.... 
Kau adikku
dia juga...
Aku sayang padamu
Padanya juga..
Aku tak tahu... 
membaginya
Kasih sayang itu bukan bilangan kuantitatif 
yang dinilai lewat angka-angka...

kau ingin menagis?
menangislah bersamaku!
kemari...!!
Seperti  ia menangis bersamaku
saat berpisah...


kau adikku...
Sampai kapan pun tetap ia..
Yakinlah!!!



Rabu, 02 November 2011


Orang sibuk itu sering di jangkit sakit kepala. Maklum banyak fikiran, banyak pertimbangan…
Kalau kata seorang teman, “ Biarlah…!!!  Demi dakwah!” seraya mengepal tangan ke udara
.
Ketika beban banyak, tugas belum selesai, laporan praktikum lupa dikerjakan, rapat sore ini ba’da ashar, piket masak hari ini ternyata saya?, air gallon nggak datang-datang, laptop di install ( nah, gimana cara selesaikan tugas?), baju untuk besok belum di gosok, lah rendaman di ember udah berjamur…. Tolongggg…….!!! Ada yang bisa bantu saya?!!... 

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh jua, sepandai-pandai mengatur waktu, sekali-kali pasti pernah kelimpungan juga… ( saya yakin!)
Saya pernah tidak sengaja berteriak… “Pusiiiiiingggg…..!!! ” ketika melihat banyaknya urusan yang belum selesai…
“ kenapa kak?.” Introgasi seorang adik serumah.
“ Nggak tahu… mana yang harus diselesaikan lebih dulu, bingung!!... Mau tidur aja rasanya!” Ocehku.
“ Mengadulah pada Allah kak, bahkan sekedar  untuk sandal yang putus.”
Saya tergagap lama setelah ia berujar…. Saya termasuk orang yang sering lupa.. Melakukan hal-hal yang terkesan sepele, namun sesungguhnya istimewa…

 “Mengadulah pada Allah kak….” Ucapan itu terasa indah di telinga saya.
Saya jadi diingatkan kepada seorang adik, sewaktu saya tinggal serumah dengannya. Selepas salat jamaah, ia duduk paling lama setelah salat…. Lama sekali….!!
“ Adik berdzikir selalu paling lama.” Ujarku suatu ketika.
“ iya kak, nggak nyaman rasanya kalo abis salat langsung bangun…. Kayak nggak beretika. Masa selesai urusan, langsung kabur gitu aja!.”
“ iya…. Banyak yang di pinta ya…?.” Tanyaku
Adik itu hanya tersenyum…

Nah,  Kembali ke soal Mengadu….
Seorang adik…( lagi-lagi adik!....  Maklum, saya merasa banyak mendapat pelajaran dari mereka…)
“ kak, aku rasanya nggak sopan sama Allah, rasanya kurang ajar banget… gimana kak?.” Dia merengek.
“ emang kenapa?.”
“ aku tuh rajin dhuha, rajin baca Al- Qur’an, rajin tahajud, Cuma pas ada ujian aja..!! pas aku butuh…! Coba kayak sekarang… aku malas banget ibadah…”
“ kayaknya hampir semua manusia kaya gitu, baik pas butuh, ramah pas perlu….”
“ Aku nggak mau kayak gitu kak…. Nggak mau…!!”

Kalau di fikir, apa susahnya sih mengadu pada Allah?
Kalau di fikir, kenapa malas sih minta perhatian Allah?
Kenapa lebih sering  kita minta perhatian makhlukNya, bukan penciptanya?

“ Mengadulah pada Allah kak, bahkan sekedar  untuk sandal yang putus.” Kata itu terngiang lagi. Indah…..!!!

( wallahu’alam….)
Terima kasih untuk adinda di rumah kita…

Minggu, 30 Oktober 2011

Percaya padaku 
Sini ku ajak engkau 
Mencari harta karun… 

Awal tahun menjadi mahasiswa baru. Saat itu aku sedikit kaget dengan perubahan suhu hidup. Kesibukan dengan mata kuliah yang padat, pembinaan tahun satu bersama senior, BBMK Universitas yang saat itu aku memilih FKI Rabbani, Mentoring yang senantiasa memonitor, Agenda wisma seperti piket harian, mingguan, dan piket masak. Gerah! Sungguh… Belum lagi sms undangan yang manis bertengger di inbox hp.Hari sekian, jam sekian, diharapkan kedatangannya!...  ini undangan kok maksa?

Bapak itu ngasih ilmu atau dongeng sebelum tidur sih?... bawaannya ngantuk! Ikhlas nggak pak?. Ibu itu bisa nggak ya kalo nggak marah-marah?. Satu yang salah semua kena marah!. Uni dan uda itu bisa nggak ya kalo nggak bawel… kok selalu ngatur-ngatur?... Saya capek… sungguh saya capek sodara-sodara!

Yah…  anak baru, maklum! Saat itu hampir setiap malam aku mengeluh pada kakak satu kamar…. Kakakkkk… na nggak tahan!. Na capek. Na betmut. Na mau pingsan. Na mau lupakan kalo na mahasiswa!,. Na mau pulang…. ( geleng-geleng kepala kalo ingat sekarang)
Sang kakakku itu hanya membalas halus… “ aku dulu juga begitu!.”
Yeah…  “ Kak, aku pengeluh ya?.”
“ hmmm….. kayaknya sedikit.”
“ sedikit atau banyak?.”
“ sedikit banyak….”
Hancur berkeping-keping di lubuk hati… Sebuah kenyataan yang sebenarnya sudah kusadari sejak awal. Kok aku menjadi pengeluh begini?
“ Kak…. Apa sih yang membuat kakak merasa sangat bahagia?.”
“ Aku akan bahagia sekali jika aku bisa belajar dengan sungguh-sungguh.”
“ Loh, kok gitu?.”
“ karena hanya dengan begitu aku bisa membahagiakan orang tua. Dengan belajar sungguh-sungguh!. Orang tua kita pasti bahagia melihat kita belajar dengan baik, memberikan nilai terbaik kita pada mereka.”
Aku terpukau. Terpesona mendengar jawaban kakak yang pendiam ini. Terbayang tiap malam aku menjadi pengganggu ritual belajarnya. Menyesal ….!!! Maaf kak!
Di sepanjang jalan kenangan aku merenung. Tentang cita-cita, pengorbanan, tetes keringat, doa-doa, hingga aku di takdirkan untuk sampai pada titik ini. Aku teringat dengan air mata mereka…. Sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku????  Segunung emas permata? Kedudukan? Atau  Kulkas, TV baru, Mobil, Jalan-jalan keliling dunia?
Ibu dan ayahku tidak pernah minta itu padaku.. Apa yang mereka pinta? Sederhana….  Aku berusaha sungguh-sungguh untuk kebahagiaanku di masa depan!
Yang mereka inginkan aku bahagia… itu saja!
Setelah hari itu… Jangan lagi menjadi pengeluh!... harus kuat, harus tabah, harus sungguh-sungguh! Dan kepadamu teman…
Ku ajak mencari harta karun bersama-sama… Mujahadah kita… bersungguh-sungguh….!!!

Thanks to: Kenan “ As-sofiyah members….”
Untuk para dinda di rumah… Semangat senantiasa!!!

Kamis, 27 Oktober 2011

Aku rindu ia
Wanita bergerobak merah
Peluhnya harum....

Aku tak malu jadi milikmu
Tak akan pernah
Cita kita kan kujaga
Bersama menemanimu

Sesekali  kau bertanya,
" Kapan kita jumpa nanda?."
Yakinku padamu Sejengkal waktu
Hanya sejengkal
Ku ajak dikau bertualang
ke ranah alang-alang
Ketika kecil dulu
Engkau sabar menunjuki jalan....

Minggu, 16 Oktober 2011


Di suatu minggu yang panas, aku berkumpul melingkar bersama guru spiritual.  Memangnya para artis saja yang mengaku berguru spiritual? Aku juga ia, sejuta orang di luar sana juga ia, dan sobat yang membaca tulisan ini moga juga ia.... Amin…
Setiap melingkar bersamanya, ada-ada saja yang aku bawa pulang…  Kadang semangat baru, kadang refresh ilmu, kadang segudang optimisme, kadang kedalaman cinta, dan kadang malah pulang bawa kue…
Nah tika itu, sehabis membahas suatu hal, sampailah pada sesi qodoyah alias curhat…
“ ada yang mau bercerita seru hari ini?.” Ujar sang moderator dengan bijak.
Semua yang hadir saling pandang senyum.  Entah apa yang ada di fikiran kami masing-masing.
“ saya mau tanya guru.” Kata seorang teman.
“ Yah…. Silahkan.” Guru spiritual kami menyilahkan.
“ Begini guru, saya di kampus memegang amanah di bagian X, sebenarnya saya udah gimana ya?. Hufh… saya sebenarnya bingung, saya merasa aneh, kenapa yang di  tunjuk itu saya-saya saja. Kadang saya merasa capek, letih. Emangnya di tempat itu nggak ada yang lain?. Saya kan juga mau ke organisasi lain, merasakan enaknya punya teman baru, suasana baru, biar refresh. Nggak monoton. Tapi.. Gimana menurut guru. Saya harus bagaimana?.” teman yang qodhoya bercerita panjang lebar.
Saya mendengar dengan teliti.
“ Ayoh, siapa yang mau berkomentar?.” Sang guru malah melempar pertanyaan pada kami semua.
Tak ada satupun dari kami yang buka mulut lalu bersuara…
Guru melanjutkan…
“ saya ingat sebuah nasyid, saya tidak bisa menyanyi tapi liriknya, kami adalah panah-panah terbujur yang siap dilepaskan dari busur, tujuh sasaran siapapun pemanahnya. Nah…. Adik-adik sekalian sekarang adalah panah-panah itu, mau di lepaskan ke sasaran mana saja seharusnya tidak mengapa. Siapapun pemanahnya seharusnya kita tetap siap. Mau dapat amanah di mana saja, jadi ketua, jadi koordinator, bahkan staf  belakang layar nggak masalah!. Harus siap, harus tahu banyak hal!. Ingat apa yang di katakan salah seorang khulafaurasyidin, jika ada seribu orang yang ikut, maka salah satunya adalah aku. Jika ada seratus orang yang ikut maka salah satunya adalah aku. Jika ada sepuluh orang yang ikut, disana harus ada aku. Dan jika hanya ada satu orang yang ikut, maka itu ADALAH AKU!.”
Aku merinding mendengarnya…. Aku bahkan terkadang berfikir,” kan sudah ada dia, ah…nanti dia pasti bisa ngatur!”
Atau
 “ kan sudah banyak teman yang berkontribusi, jadi nggak masalah kalau aku nggak ikut.”
Benar-benar salah persepsi…
Kini sadar, jika aku belum mampu menjadi panah-panah yang siap di lepas dari busurnya.

*redaksional percakapan di edit sendiri oleh penulis tanpa mengurangi makna cerita….
Thanks to: Sang Guru Spiritual dan teman mainku…

Jumat, 14 Oktober 2011


Tak sengaja mataku beradu dengan matanya yang coklat terang...
Ku ulaskan senyum, seperti biasa, antusias melihat orang baru, “ Jual apa?”
“ Kue talam kak…” jawabnya tenang…
Sayang, aku habis makan batagor di tempat mengajar….
Perut sudah kenyang betul…
Ku langkahkan kaki setara dengannya…
Ku perhatikan ia dengan perasaan kagum… Ya.. kekaguman yang lebih besar di banding rasa kagum melihat para professor di kampus…
“ Kueeee…. Talllllaaaaaa…….aaaa…mmmmmm.”  Teriaknya khas, kadang ku dengar mirip teriakan tarzan.
Kau tahu rasa malu?
Apa bedanya dengan percaya diri?
Jika boleh dik, aku minta secuil rasa percaya dirimu….???
Tak malu kau berjualan teriak-teriak, jalan berkilo-kilo…
Tak malu kau membantu orang tua, tak malu dengan keadaan diri
Tak malu dik….. Aku salut!!!
Ketika teman sebayamu menghisap rokok, mencandu…
Kau tetap berteriak merdu…” Kue Taaaallllaaaa…aaaammmmmmm”
Dimataku kau bocah laki-laki yang mengagumkan….


About Me

Foto saya
Padang - Bengkulu
Hii, my name is yona//25 yo// Pharmacist// Teacher// Love writing, reading, traveling, and culinary// English learner.

Popular Posts

Categories

TAMU